Selasa, 27 April 2010

The Power Of Purity

The Power of Purity
By John Wesley
Blessed are the pure in heart: for they shall see God. Matthew 5:8

How excellent things are spoken of the love of our neighbor! It is “the fulfilling of the law,” “the end of the commandment.” Without this, all we have, all we do, all we suffer, is of no value in the sight of God. But it is that love of our neighbor which springs from the love of God: otherwise itself is worth nothing. It behooves us, therefore, to examine well upon what foundation our love of our neighbor stands; whether it is really built upon the love of God; whether we do “love him because he first loved us”; whether we are pure in heart: for this is the foundation which shall never be moved. “Blessed are the pure in heart: for they shall see God.”
“The pure in heart” are they whose hearts God has “purified even as he is pure”; who are purified through faith in the blood of Jesus, from every unholy affection; who, being “cleansed from all filthiness of flesh and spirit, perfect holiness in the [loving]
fear of God.” They are, through the power of his grace, purified from pride, by the deepest poverty of spirit; from anger, from every unkind or turbulent passion, by meekness and gentleness; from every desire but to please and enjoy God, to know and love him more and more, by that hunger and thirst after righteousness which now engrosses their whole soul: so that now they love the Lord their God with all their heart, and with all their soul, and mind, and strength.

Compiled by Al Bryant, "The John Wesley Reader", Word Books. This book is currently available on the used book market. Please check the used book venders for this book at IMARC.



By: Manati I. Zega | Hot News | 01 Februari 2010, 09:33:11 | Dibaca: 206 kali
Kekudusan hidup bukan pilihan tapi keharusan. Menjalani dalam hidup sehari-hari mendatangkan damai dan sukacita. Namun, mengabaikannya mengundang kehancuran. Silakan memilih!
Zaman sekarang, berbicara mengenai kekudusan kerap dianggap tidak relevan. Bahkan, orang yang menjalani hidup kudus dicap aneh. Remaja yang tidak free sex justru ditolak kelompoknya. Remaja demikian dinilai tidak mengikuti perkembangan zaman. Di keluarga, orangtua yang menjalankan firman Tuhan dianggap kolot. Tidak membuka mata terhadap kemajuan zaman. Sebagian orang mengatakan bahwa nilai-nilai rohani mengekang kebebasan. Tidak memberi ruang untuk berekspresi. Pegawai yang tidak mau korupsi, hidup jujur justru kariernya dihambat. Bahkan diberi sanksi sosial, dikucilkan dalam pergaulan, dst.
Persoalan di atas makin kokoh dengan filosofi posmodern. Filosofi ini menganggap kebenaran itu relatif sifatnya. Implikasi dari pemahaman tersebut, orang sering mengidentikkan dengan kebebasan. Bebas melakukan apa saja yang dikehendaki karena kebebasan adalah hak azasi manusia. Pengertian ini cenderung meniadakan nilai-nilai fundamental, yakni nilai-nilai iman. Nah, inilah spirit zaman di mana kita hidup.
Lalu, bila kebebasan dianggap superior, maka nilai-nilai moral cenderung ditiadakan. Tidak heran tiga area terlarang sering menjatuhkan orang-orang percaya. Hamba Tuhan, aktivis, pemuda—pemudi akhirnya takluk pada area ini. Area-area yang dimaksud adalah harta, wanita, dan tahta. Demi mengejar harta, orang rela KKN. Demi menikmati kepuasan seksual orang melakukan perselingkuhan bahkan menghalalkan perceraian. Demi menggapai tahta, seseorang tega “menghajar” teman sendiri. Melakukan segala tindakan tak terpuji untuk menjatuhkan lawan.
Sebagai orang Kristen, bagaimana kita dapat hidup kudus di tengah zaman seperti ini? Mungkinkah hidup kudus dilakukan sementara kebanyakan orang mengabaikannya? Dapatkah hidup kudus dijadikan gaya hidup, sementara figur moral justru tumbang dihajar kenikmatan dunia? Siapa yang dijadikan panutan bila semua orang melakukan hal yang menyakiti Tuhan? Ya, Petrus menegaskan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr. 1:15-16). Pilihan di tangan kita. Menuruti firman Tuhan mendatangkan sejahtera. Sebaliknya mengikuti dunia menghancurkan hidup.

Sumber: Majalah Bahana, Februari 2010

 

Senin, 26 April 2010

Lima Kriteria Jodoh Pilihan Tuhan

Lima Kriteria Jodoh Pilihan Tuhan

Rasanya janggal kalau sebagai orang kristen kita masih mempertanyakan bagaimana menentukan bahwa jodoh itu adalah pilihan hati atau pilihan Tuhan. Apa memang ada yang seperti itu? Bukti pertanyaan diatas memang ada, diketahui dari banyaknya perkawinan yang kandas di tengah jalan, terjadinya ketidakharmonisan, atau perceraian. Kenyataan-kenyataan seperti ini yang seringkali kita pakai untuk mencetuskan pertanyaan di atas. Yang bertengkar terus menerus dan bercerai merupakan pasangan yang bukan merupakan pilihan Tuhan. Sedangkan yang harmonis dan bahagia hidupnya adalah mereka yang memang telah disatukan oleh Tuhan.

Yang jelek pasti bukan dari Tuhan dan yang baik pastilah jodoh yang dikehendaki-Nya. Kita sendiri tidak punya resep bagaimana caranya menentukan antara jodoh pilihan hati atau pilihan Tuhan. Namun yang bisa kita lakukan dengan mencermati kriteria-kriteria yang baik untk membentuk sebuah keluarga. Ada kriteria yang bisa kita pakai sebagai dasar untuk mengetahui siapa jodoh kita.

1. Anda berdua harus memiliki minat yang banyak

Dalam usaha mencari pasangan hidup, carilah orang yang telah hidup dalam kehidupan yang menarik, seorang yang mempunyai banyak saluran dan yang telah banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan. Anda tidak perlu mempunyai yang disukai dan tak disukai yang sama kalau Anda berdua adalah orang yang mudah menyesuaikan diri, tetapi lebih disukai adalah orang yang secara jelas bisa mendemonstrasikan bahwa dia memiliki energi, imaginasi, dan konfiden.

Dengan berkata demikian, maka kita mengenali bahwa “batu kebosanan akan bisa menenggelamkan bahtera perkawinan”. Dalam usaha mencari jodoh, tambahkan kekuatan kepada kekuatan, bukan kelemahan kepada kekuatan. Dengan kata lain, Anda akan berusaha menambahkan kekuatan Anda kepada kekuatannya. Bukan kekuatanmu kepada kelemahannya.

Formula ini berlaku juga bagi setiap orang yang memikirkan jenjang relasi perkawinan.

Dengan demikian merupakan hal yang sangat penting bahwa Anda sendiri mengalami kehidupan yang sangat menarik sebelum Anda menikah, sesuatu yang dipenuhi dengan suatu variasi keprihatinan dan ketrampilan. Tujuan perkawinan memang membuka pandangan pengalaman baru yang luas, persahabatan baru dan kesuka-citaan baru. Perkawinan tidak dirancang untuk memperbesar beban-beban dan rintangan-rintangan baru. Seorang yang menikah hanya sekedar menghilangkan kejenuhan mengalami kesulitan bercumbu.

Kalau seorang tidak mempunyai baik semacam ketrampilan, maupun minat yang besar, dia akan bisa memberikan sumbangan yang kecil saja kepada suatu kehidupan perkawinan yang diharapkan untuk berlangsung bertahun-tahun. Otot-otot yang kuat seorang lelaki dan tubuh seksi seorang perempuan masih belum cukup.

Karena apa yang akan terjadi kalau otot dan tubuh itu mulai layu dan kendor setelah usia 40 tahun?

Hidup berpasangan melibatkan berbagai rasa-perasaan, melakukan pekerjaan bersama, berbagi-rasa dalam percakapan yang mencakup banyak pokok, dan pencarian bersama minat-minat yang lebih besar.

2. Anda berdua harus mampu tertawa bersama

Bisakah calon pasangan Anda tertawa bersama dengan Anda? tertawa menyatakan sifat lentur/fleksibel yang merupakan lawan dari sifat kaku. Seorang yang memiliki sifat humor yang sungguh akan mampu untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi. Yang di luar kendali orang untuk mengaturnya, dan banyak situasi yang demikian itu terjadi di dalam kehidupan perkawinan.

Dengan bisa tertawa bersama, anda bisa lebih siap untuk menerima keterbatasan dan kekurangan satu sama lain dan bisa membangun kenikmatan mutualistis yang menjadikan kehidupan memuaskan dan sekaligus bermakna. Tanpa tawa perkawinan itu membosankan dan monoton. Perlu diingat bahwa tertawa itu mutualistis. Kalau Anda menjadi cemburu dan defensif ketika dia bercerita tentang gadis cantik atau pria ganteng, Anda bermasalah.

Barangkali percintaan itu seharusnya dimulai dengan tertawa seperti yang berlaku pada banyak orang, daripada ketertarikan fisikal kekaguman, atau kesepian. Kemampuan untuk bisa tertawa menyatakan toleransi. Ada para ahli mengatakan bahwa “ada kekejaman di semua humor”.

Kalau hal itu benar, bagaimana percintaan itu memancar melalui tawa? Rata-rata pada awal relasi antara seorang gadis dengan seorang pemuda, seorang perempuan dengan laki-laki, sendiri atau kelompok. Ada masa kesedihan, kesendirian itu sedih, malu itu sedih, rasa tidak nyaman itu pun sedih, khawatir juga sedih.

3. Anda berdua harus memiliki perasaan secara fisik yang kuat

Tidak usah berpretensi, sebagai orang kristen sekalipun seorang mau memilih jodohnya, dia tidak bisa tanpa aspek ketertarikan kepada fisik. Adakah rasa ketertarikan yang kuat secara fisik satu sama lain? Biasanya seorang gadis lebih lambat daripada seorang pemuda yang secara spontan akan muncul keinginan seksualnya.

Disinilah letak kerawanan dalam kencan dengan teman laki-laki. Jikalau seorang lelaki mengencani seorang gadis sudah tiga kali dan si gadis sudah bisa menerimanya, dan ternyata si lelaki tidak juga menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya secara fisik, lebih baik cari yang lain.

Tanda-tanda ketertarikan itu bisa berupa lirikan yang disertai senyuman khas atau memegang tangan sebagai suatu lamaran.

Jikalau anda suka kepadanya maka sebaiknya menanggapi dengan cara tersenyum balik; kalau si lelaki meremas tangan anda dengan kuat, balaslah secara lemah-lembut, kalau sampai meraba secara kuat, tolaklah dengan cara halus; kalau dia mulai mencium anda...ya...memang harus hati-hati (Kej 24:12,16,18).

Jikalau dia mendesak untuk mengadakan hubungan seksual, perkawinan bukanlah tujuannya. Jangan membiarkan perasaan fisikal anda menjadi demikian kuat sehingga anda tidak mampu melihat “daerah-daerah berbahaya”. Lebih dari semuanya itu, jangan menikah karena hal seksual saja.

4.Anda berdua harus setuju dengan sasaran kehidupan

Inilah pokok yang sangat vital. Tidak terlalu penting memang apakah seorang pemuda itu mempunyai uang atau tidak, tapi pertanyaannya adalah apakah dia seorang yang memiliki minat bekerja atau tidak? Apakah dia seorang yang mempunyai tanggung-jawab tentang hidup ini atau tidak? Jikalau calon anda adalah seorang pemuda dari keluarga kaya, dan berpangkat, dengarkan kepada apa yang dikatakan olehnya tentang sasaran hidup yang ingin dicapainya. (Kej 24:10).

Kemajuan jaman memaksa manusia untuk berpacu satu sama lain. Sehingga sudah terlalu banyak perkawinan yang kandas, disebabkan oleh suami yang rendah ambisinya untuk maju.

5.Anda harus setuju tentang Agama

Banyak permasalahan dalam pacaran yang isu pokoknya adalah perbedaan agama. Sangat menarik untuk disimak bahwa sejak Abraham mau mencari menantu, masalah yang paling dipikirkan oleh Abraham adalah bahwa anaknya Ishak, harus menikah dengan seorang gadis yang beragama bahkan bersuku sama. Kalau mau mencari jodoh yang dikehendaki oleh Tuhan, yang terutama perlu diperhatikan adalah bahwa dia adalah seagama dengan anda.

Jangan sampai masa pacaran itu sudah sedemikian mendalam baru dibicarakan tentang keagamaan anda. Agama harus dibicarakan cukup dini, sehingga kalau harus berpisah luka batin yang dialami tidak harus merusak seluruh kehidupan anda (Kej 24:3-4).



Sumber : http://www.sungaibaru.com/artikel/lihatArtikel.php?id=95