How excellent things are spoken of the love of our neighbor! It is “the fulfilling of the law,” “the end of the commandment.” Without this, all we have, all we do, all we suffer, is of no value in the sight of God. But it is that love of our neighbor which springs from the love of God: otherwise itself is worth nothing. It behooves us, therefore, to examine well upon what foundation our love of our neighbor stands; whether it is really built upon the love of God; whether we do “love him because he first loved us”; whether we are pure in heart: for this is the foundation which shall never be moved. “Blessed are the pure in heart: for they shall see God.”
“The pure in heart” are they whose hearts God has “purified even as he is pure”; who are purified through faith in the blood of Jesus, from every unholy affection; who, being “cleansed from all filthiness of flesh and spirit, perfect holiness in the [loving]
fear of God.” They are, through the power of his grace, purified from pride, by the deepest poverty of spirit; from anger, from every unkind or turbulent passion, by meekness and gentleness; from every desire but to please and enjoy God, to know and love him more and more, by that hunger and thirst after righteousness which now engrosses their whole soul: so that now they love the Lord their God with all their heart, and with all their soul, and mind, and strength.
Compiled by Al Bryant, "The John Wesley Reader", Word Books. This book is currently available on the used book market. Please check the used book venders for this book at IMARC.
Kekudusan hidup bukan pilihan tapi keharusan. Menjalani dalam hidup sehari-hari mendatangkan damai dan sukacita. Namun, mengabaikannya mengundang kehancuran. Silakan memilih!Zaman sekarang, berbicara mengenai kekudusan kerap dianggap tidak relevan. Bahkan, orang yang menjalani hidup kudus dicap aneh. Remaja yang tidak free sex justru ditolak kelompoknya. Remaja demikian dinilai tidak mengikuti perkembangan zaman. Di keluarga, orangtua yang menjalankan firman Tuhan dianggap kolot. Tidak membuka mata terhadap kemajuan zaman. Sebagian orang mengatakan bahwa nilai-nilai rohani mengekang kebebasan. Tidak memberi ruang untuk berekspresi. Pegawai yang tidak mau korupsi, hidup jujur justru kariernya dihambat. Bahkan diberi sanksi sosial, dikucilkan dalam pergaulan, dst.
Persoalan di atas makin kokoh dengan filosofi posmodern. Filosofi ini menganggap kebenaran itu relatif sifatnya. Implikasi dari pemahaman tersebut, orang sering mengidentikkan dengan kebebasan. Bebas melakukan apa saja yang dikehendaki karena kebebasan adalah hak azasi manusia. Pengertian ini cenderung meniadakan nilai-nilai fundamental, yakni nilai-nilai iman. Nah, inilah spirit zaman di mana kita hidup.
Lalu, bila kebebasan dianggap superior, maka nilai-nilai moral cenderung ditiadakan. Tidak heran tiga area terlarang sering menjatuhkan orang-orang percaya. Hamba Tuhan, aktivis, pemuda—pemudi akhirnya takluk pada area ini. Area-area yang dimaksud adalah harta, wanita, dan tahta. Demi mengejar harta, orang rela KKN. Demi menikmati kepuasan seksual orang melakukan perselingkuhan bahkan menghalalkan perceraian. Demi menggapai tahta, seseorang tega “menghajar” teman sendiri. Melakukan segala tindakan tak terpuji untuk menjatuhkan lawan.
Sebagai orang Kristen, bagaimana kita dapat hidup kudus di tengah zaman seperti ini? Mungkinkah hidup kudus dilakukan sementara kebanyakan orang mengabaikannya? Dapatkah hidup kudus dijadikan gaya hidup, sementara figur moral justru tumbang dihajar kenikmatan dunia? Siapa yang dijadikan panutan bila semua orang melakukan hal yang menyakiti Tuhan? Ya, Petrus menegaskan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr. 1:15-16). Pilihan di tangan kita. Menuruti firman Tuhan mendatangkan sejahtera. Sebaliknya mengikuti dunia menghancurkan hidup.
Sumber: Majalah Bahana, Februari 2010

